Menyelisik Jejak Sang Raja Rimba Indonesia

- 21 November 2020, 13:00 WIB
Harimau.* /

MORESCHICK - Harimau. Satu kata yang tak pernah lepas dari misteri. Keberadaannya seolah sakral dan mempengaruhi keberlangsungan makhluk hidup.

Namanya bergaung, ada di dongeng-dongeng bahkan menjadi maskot kebanggaan sebuah komintas. Jelas saja, hewan yang hidup di alam liar dan penyandang status rantai makanan teratas ini membuatnya dijuluki 'Sang Raja Rimba'.

Namun, Sang Raja Rimba dihantui kepunahan. Tak terkecuali di Indonesia, pemburuan dan perusakan ekosistem menjadi ancaman nyata bagi kehidupan harimau.

Baca Juga: Agar Gala Mau Minum Susu, Bibi Ardiansyah Pakai Daster Bekas Vanessa Angel

Baca Juga: Aisyah Moonlight Akbar, Nama Anak Kedua Kimberly Ryder dan Edward Akbar

Baca Juga: Mulai Januari 2021, Mendikbud Nadiem Makarim Perbolehkan Pembelajaran Tatap Muka Semester Genap

Dalam sejarahnya, mengutip buku AUM! Atlas Harimau Nusantara, garapan Forum HarimauKita, jejak harimau nyaris menjangkau seluruh dataran Asia, Turki Timur hingga Laut Okhotsk, Rusia.

Sayangnya, wilayah hidup harimau telah jauh menyusut, menyisakan kantong-kantong habitat yang terpisah satu sama lain.

Dengan memiliki kemampuan bertahan hidup di berbagai macam hutan, seperti hutan kering, hutan lembab, hutan musim, sampai hutan bakau, menjadikan harimau tidak terlalu peduli dengan habitat.

Namun, keberlangsungan hidup harimau tersebar mengikuti sebaran cervid (jenis rusa) dan bovid (jenis kerbau) di Asia Tenggara pada zaman Pleistosen, suatu kala dalam skala waktu geologi yang berlangsung antara 2.588.000 hingga 11.500 tahun yang lalu.

Pleistosen merupakan kala dengan iklim yang berfluktuasi secara ekstrem. Sedikitnya ada empat masa glasial yang beku, yang muncul berselang-seling dengan masa interglasial yang hangat. Suhu dingin berkaitan dengan zaman es yang diperkirakan yang menimpa daerah garis lintang utara. Sedangkan di daerah tropis, efeknya membuat perubahan tinggi permukaan laut.

Baca Juga: 5 Zodiak Ibu yang Pandai Mengasuh Anak, Moms Termasuk?

Baca Juga: Kapan Rizieq FPI Digiring Ke Polisi?

Baca Juga: Mudah, Ini 3 Cara Mengetahui Bakat Anak

Dengan demikian, Pleistosen berarti zaman susah bagi harimau dan mamalia. Mereka berkali-kali harus beradaptasi dengan perubahan iklim. Yang tak mampu bertahan, akhirnya punah.

Pada masa glasial, air di Asia Tenggara, pulau-pulau yang berada di Dangkalan Sunda, yaitu Sumatra, Jawa, dan Kalimantan, putus sambung seiring dengan perubahan iklim tersebut.

Tingkat spesiasi dan kepunahan meningkat empat kali lipat dibandingkan kala Tersier, dan beberapa mamalia mengalami ledakan penyebaran. Rusa misalnya, berkembang biak dengan baik selama Pleistosen.

Dari pusat perkembangannya di Asia, sejumlah jenis cervid yang hidup di hutan dan berbadan kecil, mampu menyebar dan mendiami wilayah di Asia.

Dalam satu abad terakhir, daerah sebaran harimau di dunia telah menyusut drastis, tinggal 7 persen dari total area historisnya. Selama abad ke-20 saja, tiga ras harimau telah punah dari muka bumi. Kepunahan itu beruntun meliputi harimau Bali, harimau Kaspia, lalu harimau Jawa.

Selain itu, harimau Cina Selatan tidak pernah teramati di alam selama berapa dekade terakhir. Bahkan, saat ini harimau terpaksa harus bersinggungan dengan manusia dalam mencari tempat hidup. Bagi harimau, itu merupakan kehidupan yang sulit dan rumit.

Berbagai kajian sebaran harimau berdasarkan fosil jauh lebih sulit ditemukan, mengingat lokasi fosil yang terserak. Fosil tertua berasal dari Cina utara dan Jawa. Fosil dari Jawa diperkirakan berasal dari 1,66 dan 1,81 juta tahun lalu. Bukti fosil tersebut memberikan petunjuk bahwa harimau menyebar ke Asia Timur.

Baca Juga: Resmi Dirilis, Ini Lirik Lagu Terbaru Sheryl 'I Wish I Knew Better' yang Berkisah Soal Patah Hati

Sementara itu, fosil harimau masa Holosen tercatat ditemukan di Jawa dan Kalimantan. Namun, harimau Kalimantan nampaknya punah sejak lama. Harimau merupakan trah atau kelompok turunan tigris dari kucing phantera.

Halaman:

Editor: Wildan Heri Kusuma

Sumber: Buku AUM! Atlas Harimau Nusantara, Flora & Fauna Internasional


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X