Sejarah Bangsa Indonesia jadi Budak Belian, jadi Pemuas Nafsu dan Dicambuk

- 6 April 2021, 12:55 WIB
Ilustrasi pekerja yang dijual sebagai budak setelah dijanjikan bekerja di UAE. /Pixabay

MORESCHICK -- Pada tahun 1814, sebuah iklan muncul di dinding di tengah Batavia. Ini termasuk barang-barang rumah tangga yang dilelang, barang emas dan perak, beberapa gadis yang ditarik, kereta dan kuda.

Manusia dihargai seperti benda dan hewan. Di iklan lain, dikatakan bahwa beberapa budak wanita penari dijual.

Biasanya budak-budak yang pandai menari ini dibeli oleh tuan tanah Belanda yang gemar menghadiri pesta atau tampil sebagai pengelola gedung, seperti gedung De Harmonie.

Ada juga iklan yang bertuliskan "Koki yang terampil akan dijual. Dia tidak kalah dengan siapa pun di Batavia dalam membuat kue." Iklan itu ditempel di dinding di Batavia pada tahun 1816.

Baca Juga: Gelombang 17 Kartu pra Kerja akan Dibuka, Bersiap Yuk!

Hendrik E. Niemeyer

Penaklukan Jakarta menjadi alasan mengapa penduduk setempat dilarang tinggal di Jakarta, Jawa, dan hutan sekitarnya masih dihuni banyak satwa liar. Perusahaan berharap dapat membangun Batavia menjadi kota perdagangan, sehingga memilih untuk memperkenalkan banyak budak yang didatangkan dari berbagai daerah di dalam dan luar negeri.

Di dalam negeri, perusahaan mendatangkan budak dari Maluku, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara. Sedangkan untuk budak dari luar negeri, perusahaan membawa budak dari India dan Sri Lanka ke Filipina.

Sejarawan Betawi Alwi Shahab menulis bahwa Gubernur Hindia Belanda JP Cohen ditinggalkan oleh penduduk ketika membangun Batavia, dan pulau itu diburu di berbagai penjuru nusantara. Gelombang pertama datang dari Bangladesh, budak di Malabar dan bekas budak di Portugal.

Halaman:

Editor: Vito Adhityahadi


Tags

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X